KRIPIK PEUDEUS: Press Release – Idioritma

kripik peudeus press release idioritma

Simak “Idioritma” album kedua band Kripik Peudeus dari Jakarta! Beranggotankan DFMC (vocal & guitar), Dey-V E (vocal), Gusse (drum), LMT (guitar) dan Ibong (bass), mereka karakter yang sama sejak
“Rockin’ Da Rap Empire”, album pertama band beraliran Rock & Rap ini dirilis delapan puluh enam bulan yang lalu.

Masih dengan bendera Sirkus Rekord, “Idioritma” hadir dengan single perdana “Tiba Waktuku” lagu tentang akhir pasti perjalanan hidup yang tak terhindarkan. Interprestasi visual bernuansa rough dihadirkan dari video garapan sutradara Oki “OksBangs” dan tim dari AnginRibut untuk melengkapi.

Tentunya tidak hanya itu, karena track yang lain juga bicara banyak tentang mencari jati diri dalam “Satire“, tindak kekerasan yang diungkap lewat “Kotak Pos 10000“, sampai sensai kecanduan dalam “Adiksi“. Merasa belum cukup hanya dengan eksplorasi tema, kolaborasi dengan beragam musisi juga dilakukan. Dengarkan alunan sax Wawan (ex Jun Fan Gung Foo) dalam “Karpet Merah” lagu tentang fenomena kacang lupa kulitnya dan permainan biola Jonny yang kerap mengikuti beberapa pertunjukan orkestra dalam “Ballerina“, penggambaran betapa keindahan dan kesaktian seringkali tidak dapat dipisahkan! Keterlibatan Adi”Cumi” vokalis Fable. Cody dari TheVamps dan grup Jamaica Cafe turut memperkaya rilisan ini.

Tetap dengan benang merah “Rock & Rap” yang terjaga, “Idioritma” adalah rangkuman pemikiran dan kejadian yang berlangsung selama album ini dikerjakan, karya kedua yang jadi penantian – Layolretropus – mereka yang mendukung, mensupport sejak awal kemunculan Kripik Peudeus dan buah usaha para personil yang kini kembali mewarnai permusikan di Tanah Air!

KALUNA: Press Release – Satu Hari (Album)

Group bernama Kaluna ini di bentuk pada tanggal 9 September 2007 dengan formasi; Tuning – Vokal; Daniel – Guitar; Asco – Bass; Iwank – Drums. Album berjudul “Satu Hari” ini adalah merupakan album debut mereka yang berisikan delapan buah lagu.

Nama Kaluna sendiri dalam kamus bahasa sangsekerta memiliki arti “Tidak ada yang lain”. Maka begitulah “mind set” para personilnya ketika sepakat untuk mengerjakan album , bekerja untuk menghasilkan karya karya terbaiknya mencoba menghasilkan karya yang tidak ada “dua-nya” atau copy-nya, dan tidak berusaha menjadi plagiat namun juga tidak lepas dari sifat manusiawi yg memiliki panutan, karenanya mereka pun telah terkontaminasi karya karya indah yg pernah di dengar sebelumnya.

Hampir dua tahun proses mereka dalam merampungkan sebuah album yang berjudul ‘1 Hari” ini, memang sungguh ironis. Namun jika di disimak dengan baik maka akan sangat terasa hentakan jiwa mereka. Lagu dan musik Kaluna memberikan kesan easy, energetic dan ada sedikit kesan dark-nya inilah cerminan dari style dalam bermusik Kaluna, yang cenderung mengarah ke musik alternatif rock/british pop. Dalam pengerjaan album ini mereka di bantu oleh Ade Kunci selaku music director dan Aci Mappasawang selaku produser.

Ada beberapa lagu yang perlu kita simak dari album “Satu Hari” ini antara lain; Bilang cinta dan Satu Hari selain lagu berjudul “Cintailah Aku” ciptaan Kaluna adalah lagu yang di jagokan untuk menjadi single pertama mereka. Video musik untuk lagu “Cintailah Aku” ini di garap apik oleh ekiller dengan tema cerita yang terkandung dalam lagu tersebut, yakni sebuah kisah cinta yang tak bersambut. Sebagai pendatang baru Kaluna memang belum banyak berkiprah di dunia entertainment kita ini, diharapkan dengan single pertamanya ini Kaluna dapat membawa angin segar untuk eksis di blantika musik Indonesia.

TRACK LIST:
1 Cintailah Aku
2 Satu Hari
3 Bilang Cinta
4 Ajari Aku
5 Satukan Cinta
6 Andai
7 Arti Hidup
8 Without U
9 Engkau Dihatiku (Ya Allah)

THE BRANDALS: Masuk 150 Best Album Sepanjang Masa – Rolling Stones Indonesia

Ini adalah 150 album terbaik sepanjang masa menurut majalah Rolling Stone.

1. Badai Pasti Berlalu (Irama Mas, 1977)
2. Guruh Gipsy (Guruh Gipsy, 1976)
3. Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 (DD Record, 1978)
4. Dheg Dheg Plas – Koes Plus (Melody, 1969)
5. Suit-Suit He…He (Gadis Sexy) – Slank (Project Q, 1991)
6. To The So Called The Guilties – Koes Bersaudara (Mesra, 1967)
7. Api Asmara – Rien Djamain (Hidayat, 1975)
8. Swami (Airo Production, 1989)
9. 4 Through The Sap – PAS (Nova/Sap, 1994)
10. Ken Arok – Harry Roesli (Eterna Record, 1977)
11. Begadang – Oma Irama (Yukawi, 1974)
12. Yopie Item & Idris Sardi Live (Pramaqua, 1977)
13. Musik Saya Adalah Saya – Yockie Soerjoprajogo (Musica, 1979)
14. Kus Bersaudara (Irama, 1964)
15. Roxx (Blackboard, 1992)
16. Pure Saturday (Bacott/Ceepee, 1996)
17. Sakura – Fariz RM (Akurama, 1980)
18. Lagu Gumarang Jang Terkenal (Mesra, 1960)
19. Trio Bimbo 1971 (Polydor, 1971)
20. Jang Pertama – Dara Puspita (Mesra, 1965)
21. Koes Plus Volume 2 (Dimitra, 1970)
22. Naif (Bulletin, 1998)
23. Camellia I – Ebiet G. Ade (Jackson Record, 1979)
24. Citra Ceria – Vina Panduwinata (Jackson Record, 1984)
25. Si Djampang – Benjamin S. (Melody, 1969)
26. Terbaik Terbaik – Dewa19 (Aquarius Musikindo, 1997)
27. Sarjana Muda – Iwan Fals (Musica Studio’s, 1981)
28. Kebyar Kebyar – Gombloh (Golden Hand)
29. Kedua – Kla Project (Pro Sound)
30. Koes Plus Volume 4 (Mesra, 1971)
31. Tangan Tangan Setan – Nicky Astria (AMK Records, 1985)
32. Semalam Di Malaya – Saiful Bahri (Irama, 1961)
33. Sheila On 7 (Sony, 1999)
34. Philosophy Gang – Harry Roesli’s Gang (Lion Record, 1973)
35. Hotel Van Vincente – Transs (Akurama, 1981)
36. Giant On The Move – Giant Steps (RM Recording, 1977)
37. Oslan Husein (Irama, 1964)
38. Koes Plus Volume 5 (Mesra, 1971)
39. Pemuda – Chaseiro (Musica Studio’s, 1978)
40. Centralismo – Sore (Aksara, 2005)
41. Reborn – Indra Lesmana (BMG, 2000)
42. Nyanyian Fajar – Leo Kristi (Golden Hand, 1976)
43. God Bless (Pramaqua, 1976)
44. Di Batas Angan Angan – Keenan Nasution (Irama, 1978)
45. Duo Kribo Original Soundtrack (Musica Studio’s, 1978)
46. Dunia – Gigi (Union Artist, 1995)
47. Papaja Mangga Pisang Jambu (Irama, 1957)
48. Musim Bunga – Franky & Jane ( Jackson , 1977)
49. Indahnya Sepi – Candra Darusman (Irama Tara, 1981)
50. Jurang Pemisah – Yockie Soerjoprajogo (Pramaqua, 1978)
51. Sabda Alam – Chrisye (Musica Studio’s. 1978)
52. Doa Ibu – Titiek Puspa (Irama, 1966)
53. Titik Api – Harry Roesli (Aktuil, 1976)
54. Panggung Perak – Fariz RM (Akurama, 1981)
55. Sesuatu Yang Tertunda – Padi (Sony, 2001)
56. Kampungan – Slank (Project Q, 1991)
57. Puspa Indah Taman Hati – Chrisye (Musica Studio’s, 1979)
58. Kisah Pasar Baru (Irama)
59. My Diary – Mocca (Fast Forward Record, 2003)
60. Krakatau (Bulletin, 1987)
61. Megaloblast – Koil (Apocalyse, 2001)
62. Eka Sapta ( Bali , 1963)
63. Bubi Chen And His Fabulous 5 (Irama, 1962)
64. Kantata Takwa (Airo Production, 1990)
65. Netral (Bulletin, 1995)
66. Kemarau – New Rollies (Musica, 1979)
67. Mata Dewa – Iwan Fals (Airo Production, 1989)
68. Semut Hitam – God Bless (Logiss Records, 1988)
69. Orang Gila – Iwan Fals (Harpa, 1994)
70. Alam Raya – Abbhama (Tala & Co., 1979)
71. Living In The Western World – Fariz RM (Grammy, 1989)
72. Titik Cerah – Naif (Bulletin, 2003)
73. The Rollies (Remaco, 1972)
74. Bahtera Asmara – Andi Meriem Mattalatta (Musica Studio’s)
75. Aku Pasti Datang – Utha Likumahuwa (Jackson Record, 1985)
76. Manisku – Broery Pesolima (Hidayat, 1976)
77. Rumah Ke Tujuh – Indra Lesmana (BMG, 2002)
78. Melayang – January Christy (Aquarius/Pro Sound, 1990)
79. Pasti – Karimata (Pro Sound, 1986)
80. Intermezzo – Dian Pramana Poetra ( Jackson , 1984)
81. Sign Of Love – The Rollies (Purnama, 1973)
82. Resesi – Chrisye (Musica, 1983)
83. Bulan Di Asia – Java Jazz (Union Artist/Jamz, 1991)
84. White Shoes & The Couples Company (Aksara, 2005)
85. Nadia & Atmosphere – Lemon Tree’s Anno ’69 (Golden Hand, 1978)
86. Discus 1st (Mellow Record, 1999)
87. Interaksi – Humania (EMI/Swarabumi, 2000)
88. Noor Bersaudara (Hidayat, 1977)
89. The Beast – Edane (Airo, 1992)
90. Aku Sayang Kamu! – Iwan Fals (Musica, 1986)
91. Kidnap Katrina (Program, 1993)
92. Barong’s Band (Nirwana)
93. Jezz – Karimata (Aquarius, 1991)
94. Ghede Chokra’s – Shark Move (Shark Move, 1973)
95. Festival Lagu Populer Indonesia 1987 (Bulletin, 1987)
96. Bintang Lima – Dewa (Aquarius, 2000)
97. Gempita Dalam Dada – Harvey Malaiholo (Billboard, 1986)
98. Andai Aku Besar Nanti – Sherina (Ceepee, 1997)
99. Rara Ragadi (Duba Record, 1979)
100. Produk Hijau – WOW! (Venus, 1983)
101. In (No) Sensation – PAS (Aquarius, 1995)
102. Baur – Simak Dialog (Chico&Ira/Aquarius, 1999)
104. The Rollies (Popsound/Phillips, 1969)
105. Trapesium – Symphony (Akurama, 1982)
106. Matraman – The Upstairs (Sirkus Record, 2004)
107. JKT:SKG (Aksara, 2004)
108. Pahama Vol.1 (Bimbo Recording System, 1976)
109. Kubik (Target Pro, 1997)
110. Save My Soul – Padi (Sony, 2003)
111. The Brandals (Sirkus, 2003)
112. The Adams v2.05 (Aksara, 2006)
113. Beyond Coma And Despair – Burgerhill (Revolt, 2006)
114. 1st – Maliq & D’essentials (Sould Out/Warner, 2005)
115. Masaindahbangetseka lipisan (40.1.24, 1997)
116. Bintang Di Surga – Peterpan (Musica, 2004)
117. Ku Ingin Kembali – Iwa K (Musica, 1993)
118. Ekspresi – Titi Dwijayati ( Granada , 1988)
119. Cerita Cinta – Kahitna (Musica, 1994)
120. Keajaiban – Reza (Aquarius, 1997)
121. Keseimbangan – Ari Lasso (Aquarius, 2003)
122. High Octane Rock – Seringai (Parau/Resswara, 2004)
123. 10 Finalis Festival Rock Se-Indonesia Ke V (Logiss, 1989)
124. Tha Nekrophone Dayz (Remnants & Traces From The Years Worth
Living – Homicide (Subciety, 2006)
125. Getah (Hemagita/WEA, 1995)
126. Makara (Prosound, 1986)
127. Suara Persaudaraan (Suara Persaudaraan, 1986)
128. Love and Turbo Action – Goodnight Electric (HFMF/Aksara, 2004)
129. Pancaran Sinar Petromak (DD Records, 1979)
130. Behind The 8th Ball – Rotor (Airo, 1992)
131. Ta’kan – Guest Band (Union Artist)
132. Teluk Bayur – Ernie Djohan (Remaco, 1964)
133. Buaya Ska – Waiting Room (Waiting Room Records, 1997)
134. Orexas – Remi Sylado (Duba, 1980)
135. Potret II (Aquarius, 1997)
136. Power One – Power Metal (Logiss, 1991)
137. Kembali Berdansa – Shaggydog (Pops, 2006)
138. 17 th Ke Atas – Flowers (Aquarius, 1996)
139. Insting Psiko & Harmony – Plastik (Bulletin, 1997)
140. Waktu Hijau Dulu – Cherry Bombshell (Bulletin, 1997)
141. Kasmaran – Elfa’s Singers (Team Records, 1987)
142. Bidadari – Andre Hehanusa (Warna Musik, 1995)
143. Rasa Baru – Cokelat (Sony, 2001)
144. Balonku – Eno & Adi (Irama, 1963)
145. Anak Pantai – Imanez (Aquarius, 1994)
146. Melly (Aquarius, 1998)
147. Albumnya Oppie – Oppie (Musica, 1993)
148. Ku Ingin – The Groove (Sony, 1999)
149. Kuta Rock City – Superman Is Dead (Sony, 2002)
150. Ska-Phobia – Tipe-X (Pops, 1999)

*)sumber: Majalah Rolling Stones Indonesia & arianlupuz

THE BRANDALS: Press Release – The Brandals (Album) – Sirkus Rekord

THE BRANDALS:
Soundtrack Pubertas Remaja Metropolitan
JAKARTA – Berangkat dari tipikal suburban metropolis yang rawan kriminalitas, sambutlah album debut band begundal yang belakangan namanya tengah mengancam kemapanan industri musik di jantung ibukota negara. Inilah THE BRANDALS!

Album debut self-titled berformat kaset yang dirilis oleh label indie SIRKUS Rekord, milik personel Kripikpeudeus ini memang jauh dari kecenderungan trend musik lokal. The Brandals menyuguhkan tipikal rock n’ roll liar, urakan, agresif, gemar menghantam kemunafikan dan meludahi otoritas, namun tidak mengintimidasi pendengar dengan teks ideologis, atau agitasi dan propaganda yang membingungkan. Semua merupakan pemberontakan biologis yang natural, khas anak-anak muda puber yang lahir dan dibesarkan di perkotaan.

Butuh bukti? Simak lagu “Marching Menuju Maut” yang bagaikan anthem menuju medan peperangan melawan tirani dan otorita, di “Lingkar Labirin” dan yang mencerminkan keputus-asaan dan disintegrasi moral, rutinitas gaya hidup kaum perkotaan yang menyebalkan dalam “Stagnansi Vs Konformis”, atau “Anjing Urban” yang bercerita tentang suka duka seorang preman urban. Dengar juga keindahan metafora persetubuhan dengan nuansa kebut-kebutan dalam “100 Km/jam”, petualangan cinta yang tak berujung dalam “Hati Emosi” atau ambisius-nya globalisme dalam lagu “Stoned Travel”. Inilah respon verbal-musikal THE BRANDALS terhadap realitas kota urban Jakarta yang ternyata tak selalu glamour dan megah.

Terinspirasi semangat pemberontakan dari film A Clockwork Orange, The Filth and Fury, Rebel Without a Cause serta mengadopsi referensi musikal dari The Rolling Stones, David Bowie, The Clash, Velvet Underground hingga The Stooges, band yang berasal dari distrik suburban di timur Jakarta ini eksis sejak awal 1999 dengan line-up pertama Rully Annash (drums), Bayu Indrasoewarman (gitar), Tonny Dwi Setiaji (gitar), Doddy Widyono (bass), dan Edo sebagai vokalis.

Setelah absen hampir dua tahun lamanya, para brandalan ibukota ini akhirnya kembali dengan penuh dendam. Kali ini bersama vokalis baru yang sebenarnya muka lama juga di dalam scene indie Jakarta, Eka Annash (eks-vokalis WAITING ROOM, 1994-1999). Bersama line-up ini THE BRANDALS makin solid dan rajin menyatroni event-event musik di seputaran metropolitan. Singel pertama mereka, “100 Km/jam”, yang direkam tahun 2002, sukses menjajah peringkat teratas chart stasiun-stasiun radio terkemuka di Jakarta selama beberapa minggu. Di antaranya adalah I-Radio, Prambors Rasisonia hingga MTV Sky.

Berkat aksi panggung mereka yang lantang menyuarakan kebebasan berbicara dan berekspresi, THE BRANDALS mulai meraih reputasi serta mendapatkan pengakuan. Walau belum merilis album, para personel THE BRANDALS sempat menjadi cover untuk edisi September majalah RIPPLE asal Bandung. Selain itu mereka juga sempat mengisi halaman majalah anak muda macam POSTER, Gadis, Kawanku hingga Seventeen. Majalah bergengsi MTV TRAX bahkan menyebut band ini sebagai The Next Big Thing yang bakal happening di tahun 2004.

THE BRANDALS sendiri menurut mereka jauh dari konsep premanisme ataupun kriminal. “Media massa telah mendistorsi makna berandal,” papar Eka Annash. “Dalam definisi kita, berandal adalah tingkah laku masa puber remaja yang bebas, tidak tunduk pada aturan serta didorong oleh semangat pemberontakan pada kemapanan dan otorita.” Like it or not, here’s THE BRANDALS.